Oleh : Yahya Aziz, Jamaah Haji 2026.
Hari ini kamis 18/6/2026 rumah kami kedatangan tamu dari jamaah ibu ibu Pengajian Alkholqiyah Sidoarjo.
Tepat pukul 16.30 sore, suara deru tiga mobil beriringan memecah tenang sore di rumah. Pintu dibuka, ternyata rombongan Ibu-Ibu Alholqiyah Sidoarjo. Tujuan mereka satu: ziarah haji. Bukan ziarah ke makam, tapi ziarah ke orang yang baru pulang membawa doa dari Tanah Suci. Katanya, doa orang sepulang haji itu keramat, mustajab, masih hangat baunya seperti Ka'bah.
Saya dan istri menyambut di teras dengan senang hati. Salaman satu per satu. Tangan mereka lembut, tapi genggamannya kuat, penuh rindu. "Alhamdulillah sehat Bu, Pak," kata mereka. Lalu berbisik, "Ada auranya... aura Mekkah masih nempel." Kami hanya bisa tersenyum. Mana ada yang bisa membawa Ka'bah pulang, kecuali ketenangan yang dipinjamkan Allah untuk dibagi.
Setelah duduk rapi melingkar, saya ajak dzikir pelan-pelan. Suasana rumah mendadak hening. Kami angkat tangan bersama, mendoakan almarhum dan almarhumah orang tua kami. Disebut satu-satu namanya. Baru beberapa patah doa, saya lihat pipi beberapa ibu sudah basah. Doa yang paling pecah isaknya doa ini:
"Ya Allah, siapapun yang hadir di rumah ini hari ini dari jamaah ibu ibu Alkholqiyah Sidoarjo takdirkanlah mereka bisa datang ke rumah-Mu. Injakkan kaki mereka di Masjidil Haram, sujudkan dahi mereka di depan Ka'bah, lelehkan dosa mereka di Arafah. Al-Fatihah
Aamiin. Aamiin. Aamiin. Suara aamiin itu bergetar, bercampur isak. Ternyata rindu ke Baitullah itu berat ya, Bu. Berat tapi manis.
Setelah doa, suasana mencair. Ada air zam zam, ada kue, tapi yang paling mengenyangkan adalah cerita. Mereka duduk lebih dekat, minta kisah. Saya ceritakan Mina yang padat tapi hangat, Arafah yang semua orang jadi sama di hadapan Allah, sampai detik menangis pecah di depan Ka'bah. Tidak ada kata yang bisa menggambarkan, kecuali air mata. Beberapa ibu ikut menangis lagi. Katanya, "Ya Allah, kapan giliran kami..."
Ada cerita lucu, ketika melobi polisi jalan raya, Wahai Pak Polisi Mengapa bis kami tidak boleh masuk. Penumpang bis banyak yang sakit,
Polisi ; Ayyu marodl ? Sakit apa ? Saya menjawab : "ADDEGLEKUUN WASSEMPERUUN" saya mempraktekkan pincang.
Kata kami : Mereka banyak yang pincang, kakinya sakit.
Ibu ibu tertawa : ha...ha...ha. tertawa terpingkal-pingkal sampai perutnya sakit.
Tanpa terasa waktu begitu cepat. Menjelang adzan maghrib sudah dekat. Mereka pamit, berdiri satu-satu, bersalaman lagi. Pelukannya lebih lama dari saat datang. "Doakan kami ya Pak, Bu. 30 doa dari Tanah Suci itu titipkan untuk kami."
Mobil melaju pelan meninggalkan rumah. Rumah kembali sepi, tapi doa-doa tadi rasanya masih menggantung di dinding. 30 doa itu tidak hilang. Dia mampir, lalu terbang, insyaAllah sampai ke Arsy.
Bu, Pak, kalau suatu hari kami dipanggil lagi ke sana, doa pertama kami tetap untuk ibu-ibu Alholqiyah. Semoga Allah mudahkan langkah, lapangkan rezeki, dan segerakan panggilan-Nya. Aamiin.
Barakallah....
- Yahya Aziz (WG4D)





LEAVE A REPLY