Diar Mandala
Kontributor MenaraMadinahNews.com
CARITA, MenaraMadinahNews.com — Sabtu, 6 September 2026. Aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali meningkat. Abu vulkaniknya terdeteksi hingga ke wilayah Jakarta. Badan geologi dan BMKG mengeluarkan imbauan kewaspadaan bagi masyarakat pesisir.
Namun di Pelabuhan kecil Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, seorang nelayan tetap menyiapkan perahunya.
Dia adalah Sarman, 50 tahun, yang akrab disapa Abah Sarman atau Abah Ilik. Saat berkomunikasi dengan kontributor MenaraMadinahNews.com, Abah pamitan hendak berangkat melaut sekitar pukul 23.00 WIB. Sebelum menutup percakapan, ia mengucapkan: "Kita bersama selalu dalam doa."
Dididik Ombak Sejak Kelas 5 SD.
Perjalanan Abah Sarman sebagai nelayan dimulai sejak duduk di bangku kelas 5 SD. Lebih dari empat dekade hidupnya telah berdialektika dengan laut.
Wilayah tangkapnya meliputi perairan Carita hingga kawasan Gunung Krakatau Dalam satu kali pelayaran, ia menghabiskan 4 hingga 5 hari di tengah laut.
Di rumah, Abah Sarman dikenal sebagai seorang suami yang baik, ayah yang bertanggung jawab, dan pribadi yang taat agama. Baginya, setiap keberangkatan ke laut merupakan bentuk tanggung jawab untuk menafkahi keluarga.
"Kalau Takut, Kita Tidak Makan"
Terkait risiko di tengah meningkatnya aktivitas vulkanik, Abah Sarman menyampaikan pandangannya.
"Saya berani melaut karena kebutuhan. Kalau kita takut, kita tidak makan. Masalah takut nanti ada waktunya," ujarnya.
Bagi Abah dan ribuan nelayan kecil lainnya, menunda melaut berarti menunda pemenuhan kebutuhan pokok keluarga. Tidak ada hari libur bagi dapur.
Apresiasi untuk Penjaga Ketahanan Pangan
Kisah Abah Sarman merupakan potret ketahanan masyarakat pesisir Indonesia. Di tengah dinamika alam, para nelayan tetap bekerja untuk memastikan ketersediaan ikan bagi masyarakat.
Atas kontribusi tersebut, publik patut menyampaikan apresiasi. Nelayan seperti Abah Sarman berperan penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional.
Hingga berita ini diturunkan, BMKG masih mengimbau masyarakat pesisir untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak aktivitas Gunung Anak Krakatau. Nelayan diharap mengikuti informasi resmi dan mengutamakan keselamatan.
Selama Gunung Krakatau masih aktif, dan selama keluarga masih harus dihidupi, Abah Sarman akan tetap menjalankan profesinya di laut. Baginya, iman, kerja keras, dan tanggung jawab adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.





LEAVE A REPLY