Home Opini ALARM MERAH NASIONALISME: BAHAYA LATEN POLITIK IDENTITAS TRANSNASIONAL DI INDONESIA

ALARM MERAH NASIONALISME: BAHAYA LATEN POLITIK IDENTITAS TRANSNASIONAL DI INDONESIA

161
0
SHARE
ALARM MERAH NASIONALISME: BAHAYA LATEN POLITIK IDENTITAS TRANSNASIONAL DI INDONESIA

By: Sayyid Diar Mandala,
menaramadinah.com

Ruang publik kembali gaduh oleh narasi seorang tokoh ormas keagamaan yang secara terbuka lebih membanggakan identitas etnis leluhurnya dibanding statusnya sebagai Warga Negara Indonesia, padahal seluruh hidupnya ditopang fasilitas dan perlindungan dari Bumi Indonesia.

Ini bukan sekadar isu pribadi. Ini manifestasi ideologi berbahaya yang mengancam fondasi kebangsaan.

KRITIK PERTAMA: PENGKHIANATAN TERHADAP SUMPAH PEMUDA & KONSTITUSI

UU No. 12 Tahun 2006 tegas: Pemegang KTP Indonesia adalah WNI. Sumpah Pemuda tegas: Bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu: Indonesia.

Lalu bagaimana jika ada WNI yang di panggung publik justru mengikrarkan kesetiaan pada identitas asal dan menempatkan Indonesia hanya sebagai lokasi mencari kehidupan?

Ini pengkhianatan simbolik paling vulgar. Ia hidup dari pajak rakyat Indonesia, dilindungi TNI-Polri Indonesia, berobat pakai BPJS Indonesia, tapi narasi yang dibangun justru melecehkan "rasa Indonesia". 

Ini nasionalisme palsu. Mengambil semua hak sebagai WNI, tapi menolak kewajiban moral paling dasar: cinta tanah air. Jika mentalitas ini ditiru, 10 tahun lagi anak cucu kita tidak akan tahu lagi apa itu "Indonesia". Yang ada hanya kumpulan kelompok yang saling merasa paling mulia.

KRITIK KEDUA: MENABUR BENIH DISINTEGRASI LEWAT AGITASI IDENTITAS

Bahaya terbesar bukan pada pengakuan identitasnya. Bahayanya adalah pola agitasinya: Menggunakan narasi kemuliaan keturunan untuk membangun kultus, menciptakan kasta sosial baru, dan menebar permusuhan horizontal.

Sejarah mencatat: Semua konflik berdarah di negeri ini selalu diawali dari satu hal. Ada kelompok yang merasa darahnya lebih biru dari rakyat kebanyakan, lalu menuntut hak lebih dan menebar intimidasi.

Narasi “kami berjasa, kami keturunan mulia, maka kami boleh mengatur” adalah resep baku pecah belah bangsa. Hari ini targetnya kelompok A, besok kelompok B. Ujungnya NKRI yang hancur.

Tokoh seperti ini tidak sedang berdakwah. Ia sedang berdagang isu identitas untuk kekuasaan. Ia sedang membangun fanatisme buta yang siap mengorbankan NKRI demi membela "kemuliaan kelompok". Ini adalah ideologi ekstrem transnasional yang lebih berbahaya dari propaganda, karena korbannya adalah persatuan 280 juta rakyat.

CATATAN: NEGARA TIDAK BOLEH KALAH

1. Tumpas habis politik identitas transnasional. Pembubaran ormas yang jadi kendaraan ideologi asing adalah harga mati. Jangan beri panggung sedetik pun.
2. Revisi total UU Kewarganegaraan. Perlu ada sanksi pencabutan paspor bagi WNI yang secara terbuka menyatakan kesetiaan primer pada entitas di luar NKRI.
3. Rakyat harus bangun. Jangan silau jubah dan sorban. Ukur nasionalisme seseorang dari 2 hal: Tunduk pada hukum Indonesia & tidak pernah merendahkan WNI lain. Jika 2 itu gagal, maka ia adalah potensi ancaman bagi persatuan.

Indonesia dibangun oleh darah semua suku, bukan oleh satu kelompok. Siapa pun yang merasa lebih tinggi dari Merah Putih, maka dia adalah ancaman nyata bagi eksistensi Republik ini.

NKRI bukan tempat menumpang bagi mereka yang hatinya ada di tempat lain.

— Red./menaramadinah.com
Mengawal Akal Sehat, Menjaga NKRI dari Ideologi Transnasional.