Home Opini *Dinamika sosial cultural*

*Dinamika sosial cultural*

106
0
SHARE
*Dinamika sosial cultural*

 

 

DR Ir Hadi Prajaka SH MH

GEMPA DAN PERGESERAN SPIRITUALITAS NUSANTARA

 

 

Alam kerohanian Nusantara yang mengalami gempa dan hampir tumbang oleh perubahan dan dinamika zaman.

 

Bila ingin lebih detail memahami jejak peradaban Nusantara dan ketahanan nasional Bangsa hal ini tidak terlepas dari peran penting dari kondisi sosial budaya yang hancur berantakan oleh berbagai macam kehadiran culture Asing, yang merubah mainset operational system (os) hardware dan software culture Nusantara oleh para penjajah, dengan sangat kuat terjadi pergeseran dan gampa kebudayaan itu walaupun tidak secara total musnah, biasa nya disebut sebagai proses pergeseran kebudayaan oleh Para archelogis dikatakan - menyebutnya sebagai proses adaptif cultural, bertahan hidup sebagai proses Al – Kulturasi atau dorman (tidur sesaat) menghindari ancaman oleh adanya hegomoni kerohanian Asing yang masuk. Pertanyaan nya apakah hardware dan software budaya Nusantara tidak kejang atau ngadat / error, ini bahasa perumpamaan metafora generasi Z, yang saat ini hidup nya tidak bisa lagi lepas dari PC komputer dan HP.?

 

Bahwasanya jejak peradaban kerohanian Nusantara tetap bisa bertahan dan menyesuaikan diri tetapi akar dan batang tubuh kebudayaan tidak bisa mati dalam konteks Jawa ada sesanti ngeli mung ora keli (tidak pernah terhanyut) atau ibarat pohon pisang rubuh – rubuh gedang tidak pernah tumbang, walaupun sebagian besar kebudayaan telah mengalami tumbang. 

Konsep hidup dalam dalam jiwa' murni manusia Nusantara, punya sesanti wujud KETUHANAN YANG MAHA ESA, GUSTI TAN KENA KINIRA, TAN KENA KINAYA NGAPA, NING LEMBUT TAN KENA JINUMPUT, NING BABAR NGEBEKI JAGAT, TAN KENA WINUWUS, ini lah konsep kerohanian nya  yang sebenarnya. Dan bertumpu pada nilai kerohanian yang mengutamakan KE -ESA-AN, dengan akar KESADARAN MURNI ATAU SUWUNG. 

Dalam berbagai lontar dan pandangan orang awan biasa di temukan – di sampaikan satu narasi – istilah dengan kosa kata TAYA DAN PITAYA, TAYA artinya suwung PITAYA artinya kepercayaan yang dimaksud dalam hal ini adalah satu bentuk spiritual yang berhubungan dengan transedent, dalam proses manekung manembah maneges kepada yang maha gaib yang maha tak terhingga yang maha tak terdefinisi kita harus kosong – suwung dari segala ego yang ada hanya berserah diri – sumarah. 

Kemudian, banyak tokoh – tokoh yang ingin menguraikan atau sedikit latah menerjemahkan kosakata KAPITAYAN ini, tetapi kurang menguasai spiritualitas Nusantara,  sebagai regulasi budaya spiritual, seperti tokoh – tokoh baru Agus Sunyoto Alm (Lesbumi), Agus Mustofa, Bapak Kojin, Buya Syakur dan berbagai antropolog perguruan tinggi mulai mengemukakan spiritual Nusantara Sebagai konsep KA-PITAYA-AN atau Kapitayan, tetapi masih jauh dari suatu ilmu pengetahuan spiritual Nusantara, oleh karena itu penting meluruskan kesalahpahaman maknanya,

Sedangkan masyarakat nusantara muncul kosa kata ESA sebagai misi suci spiritual yang mengandung pengertian filosofis bukan tunggal atau satu/ Eka juga bukan Dwi Tunggal juga bukan satu-satunya, tetapi ESA (sempurna) bermakna Hyang Maha Sempurna. Selanjutnya kultur nusantara kehadiran kemudian system kultur kerohanian dengan membawa OS - kerohanian dengan hardware dan software gurun pasir menjual dagangan konsep TUHAN YANG SATU, dengan kesatuan dari sekian banyak 99 nama sebutan Tuhan, akibatnya menjadi virus yang merusak pc kebudayaan nusantara dengan demikian bangsa menghadapi dinamika spiritual dan gempuran ombak yang menghantam budaya KEROHANIAN Bumi Pertiwi.

 

Bagaimana seharusnya agar kita tidak tumbang dan Terus hidup, satu pertanyaan yang berhubungan dengan kelangsungan keberadaan jati diri Bangsa?.

Marilah kita coba kupas dengan NALAR INTUITIF waras, bedah ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa harus menggunakan Ego Sya'tan dan marah.

 

 

A. SECARA HISTORIS 

Pandangan Bung Karno didalam bukunya ideologi FILSAFAT PANCASILA, yang digunakan sebagai indoktrinator kepada kedet kadet TNI dan polri' serta tokoh tokoh politik pada saat itu, didalam bukunya itu beliau menyampaikan tentang kerohanian Nusantara itu ada fase fase ya sementara kita sebut FASE MEKANISME yang ber sub – sub :

 

1. FASE PRA HINDU DAN BUDDHA 

Abad ke 2 sebelum Masehi mengenal essentials KETUHANAN YANG ESA dalam pandangan masyarakat adat Batak menyebutkan tuhan itu adalah MULAJADI NA BOLON sebagai tatapan semesta dan DALIHAN NA TOLU adalah awal dan asal mula semesta, demikian pula Bangsa adat Dayak menyampaikan wawasan tentang Tuhan Yang Maha Kuasa dengan sebutan RANYING HATALLA LANGIT, bahwa simbol kehidupan sebagai sumber kehidupan, napas kehidupan semesta. Dengan menggambarkan simbol awal kehidupan dengan istilah BATANG GARING. Demikian pula masyarakat adat SUNDA dengan mengenalkan narasi TAYA - Teu Nu Tan Kena Ku Ngan Sikir, yang beresonansi dengan keberadaan yang tidak Bisa dibayangkan dan tidak terdefinisi kekuatan tanpa batas adalah Yang Maha Esa. Dalam bahasa Melayu Kuna TAYA menjadi konsep dasar kosa kata Tiada dan Absolute. Dalam bahasa masyarakat adat Bugis PATATOA bahwa nusantara tetap berpandangan pada akar yang sama.

Bahwa kebudayaan nusantara, yang bermakna otoritas tertinggi di semesta menentukan takdir kekuatan tidak terdefinisi, dan banyak lagi regulasi masyarakat adat di Nusantara menyebut TAYA – TOA yang berujung pada konsep kapitayan, didalam masyarakat adat telah melakukan ritual-ritual kepada tuhan Monoteis di Punden - SANGGAR berundak, dan Tugu Lingga Yoni sebagai pemujaan tanpa adanya ARCHA (patung dewa – dewa)

2. FASE HINDU DAN BUDHA. 

SINKRETISME menjadi sintetis kurang lebih abad 4 sampai 15 Masehi. Dewa dewa di bumikan diberikan nama lokal dalam bahasa sansekerta kapitayan Nusantara melebur berubah bentuk menjadi,Siwa Budha mulai diperkenalkan istilah Sang Hyang Tunggal dan wujud Batara guru, Para raja sudah melakukan ritus dan upacara ritual di candi candi untuk kehormatan sang Raja, prinsipnya tetap Sama pada sang Hyang Taya ada muncul Dewa Ismaya wujud Sang TAYA, Improvisasi dari peleburan Hindu dan Budha.

 

3. FASE ISLAMISASI 

Berawal dari sebuah perdagangan, muncul Para penjual dagangan rohani mereka menyebut dirinya sebagai ulama dan kyai selain membawa dagangan berupa karya karya hasil Bangsa Persia juga membawa dagangan berupa rohani SYARIAT, Masa itu sekitar abad ke 12 dan abad 18 Masehi. Babad babad Jawa Sunda digubah ulang dengan bantuan orientalis Barat, antropolog budaya kompeni, menuliskan susupan wangsa Carita baru Syech Subakir dan wali songo dengan konsep promosi untuk pembersihan jin dan syetan, wayang dikuliti hidup-hidup dipaksa untuk berdakwa, gamelan ditambah dengan warna-warna baru' instrumen gurun pada masa inilah proses dinamika terjadi piranti tetap Nusantara dan otak Jawa Sunda (Nusantara) tetapi operasional system hardware dan software dari gurun, akhirnya tumbang dan ngadat. seluruh memori system hilang dan mulai muncul gerakan penyesatan dan seterusnya.

menyentuh 3 hal besar: pergeseran budaya Nusantara, konsep Kapitayan, dan jalan untuk "kembali" ke akar akan uraikan dari beberapa disiplin ilmu pengetahuan biar jernih, tanpa niat adu domba dan pembenaran suatu kepercayaan, keyakinan.

 

Tunggu episode berikutnya 

TTD 

GUS WARAS NALAR 

 

Freedom of religion and awarenes.