By. Sayyid Diar Mandala
Menara Madinah | Sabtu, 25 April 2026
NU sekarang keren, pidato di luar negeri lancar, salaman sama tokoh dunia sudah biasa. Itu capaian yang patut diapresiasi. Tapi di balik euforia global itu, ada hal yang tidak boleh dilupakan: menjaga tradisi bermazhab sebagai basis utama jamiyah.
Sebab NU ini dari sononya ormas Ahlussunnah wal Jamaah yang bermazhab. Produk hukumnya lahir dari bahtsul masail dengan merujuk kitab mu’tabarah. Ini sistem proteksi keilmuan agar tidak jatuh pada ijtihad yang tercerabut dari sanad. Kalau pakem ini longgar, lama-lama kitab Ianah sama Fathul Qarib cuma jadi pajangan di lemari.
Di luar sana berkembang cara pikir non-mazhabi yang menolak turats dan merasa bisa langsung ke Qur’an-Hadits tanpa lewat ulama mazhab. Kedengarannya gagah. Tapi itu bukan jalan NU. Kalau cara itu masuk ke struktur, NU bisa kehilangan rohnya.
Jadi pemimpin NU itu berat, Mas. Harus bisa dua hal. Pertama, pinter ngurus dunia. Biar NU tidak kuper dan nyambung dengan zaman. Kedua, pinter ngaji. Biar kalau mutusin perkara tidak buka kitabnya kebalik.
Jangan pilih yang cuma pinter lobi. Jago rapat, jago diplomasi, tapi disuruh mimpin tahlil belepotan. Jangan juga pilih yang cuma pinter ngaji tapi ditanya anak muda soal kerjaan jawabnya “tawaqquf” terus. Kasian umatnya. Butuh jawaban, bukan disuruh nunggu.
Bahasa juga penting. Boleh ngomong HAM dan SDGs, tapi jangan lepas dari maqashid syariah. Boleh ngomong toleransi, tapi tegaskan itu tasamuh warisan Kiai Hasyim. Kalau bahasanya ke-Barat-Baratan terus, kakek di kampung yang ngajinya tamat Jurumiyah bisa merasa jadi tamu di rumah sendiri.
Dan ini yang harus diingat: warga kultural NU itu cinta mati sama NU.
Mereka yang tiap malam Jumat tahlilan. Yang masak di dapur pas haul. Yang nderes Qur’an di langgar ba’da Subuh. Yang iuran bangun madrasah pakai uang beras. Mereka diam bukan karena tidak paham. Mereka diam karena khidmat. Tapi kalau lihat NU-nya berubah rasa, hatinya ikut sakit. Kritik dari mereka bukan benci. Itu rintihan cinta. Sebab bagi mereka, NU bukan sekadar organisasi. NU itu rumah. Tempat pulang. Tempat mati.
Maka pesan buat calon pemimpin NU: kepalanya boleh mendunia, tapi kompasnya tetap pesantren. Sarungnya jangan dilepas. Biar terbang tinggi, tapi tetap hafal jalan pulang ke surau. Sebab dari surau itulah NU lahir, dan di surau itu pula jutaan warga menitipkan cintanya.
NU ini suluh. Nyalanya dari minyak tradisi: kitab, sanad, adab. Kalau sibuknya cuma motret di panggung tapi lupa ngisi minyak di bawah, ya gelap. Tiangnya masih ada, tapi tidak ada yang mau numpang terang.
Kritik ini mahabbah. Yang diam itu yang bahaya.
Wallahu a’lam bish-shawab.





LEAVE A REPLY